G
N
I
D
A
O
L

Tasyakkuran Kelas Akhir Madrasah Fattah Hasyim: Ini 3 Pesan Penting Kepala Madrasah untuk Dasantara

FH Media – Setelah doa Khotmil Qur’an pada rangkaian agenda Tasyakkuran Kelas Akhir Madrasah Fattah Hasyim (24/04/2026), acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan serta amanat dari Kepala Madrasah.

Perwakilan siswa kelas XIIA-3 sekaligus Ketua Dasantara (nama Angkatan XI Madrasah Fattah Hasyim), Rohmat Nur H, dalam sambutannya mewakili rekan-rekannya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran dewan guru. Dengan nada bergetar, ia mengungkapkan betapa berartinya bimbingan guru selama mereka menempuh pendidikan.

“Kami menghaturkan terima kasih tak terhingga kepada guru-guru kami, khususnya para wali kelas yang telah sabar membersamai dan mendidik kami di tengah dinamika kelakuan kami selama ini. Terkhusus, rasa hormat kami haturkan untuk Kepala Madrasah dan seluruh pimpinan Madrasah Fattah Hasyim,” ujar Rohmat. Ia juga memohon maaf atas segala khilaf dan memanjatkan doa agar keluarga besar madrasah senantiasa diberikan keberkahan dan kesehatan.

Wakil Kepala Madrasah, Bapak K.H. Moh. Yahya Husnan, S.Pd.I, dalam sambutannya membawa ingatan hadirin kepada almarhum Kiai Djamal. Beliau menekankan pentingnya mengamalkan ilmu sebagaimana yang termaktub dalam kitab Ihya Ulumiddin.

“Rangkaian ilmu itu ada tiga fase: keutamaan ilmu itu sendiri, keutamaan mempelajarinya, dan yang paling krusial adalah keutamaan mengajarkannya,” tutur beliau.

Beliau mengutip dawuh Kiai Djamal yang menekankan bahwa orang yang berilmu, mengamalkan, sekaligus mengajarkannya adalah sosok yang sangat langka dan mulia di kerajaan langit. Sesuai dengan hadis Nabi: من علم وعمل وعلّم فذلك يدعى عظيما في ملكوت السماء

Tak lupa, beliau juga mengingatkan, “Man la adaba lahu, la ilma lahu. Di mana pun kalian berada, jangan pernah tinggalkan sopan santun (adab).”

Puncak acara ditandai dengan amanat dari Kepala Madrasah Fattah Hasyim, Bapak K.H. Mohammad Idris, S.Pd.I. Beliau mengajak seluruh siswa untuk mensyukuri perjalanan Panjang ini, baik yang telah berproses selama enam tahun sejak jenjang MTs maupun tiga tahun di jenjang MA.

Dalam pesan penutupnya, Kiai Idris memberikan tiga mandat utama kepada para lulusan: menjaga aqidah, menjaga syariat (shalat dan batasan pergaulan), serta menjaga akhlak. Beliau menekankan bahwa ujian kesantrian yang sesungguhnya adalah saat mereka berada di luar pesantren.

Menutup amanatnya, Kiai Idris menyampaikan sebuah analogi pohon yang sangat menyentuh kalbu sebagai refleksi pentingnya menjaga hubungan (alaqah) dengan guru dan almamater:

“Ibarat sebuah pohon yang kokoh, harus ada kesatuan yang utuh antara akar, batang, ranting, hingga dedaunan. Jika engkau adalah sehelai daun yang ingin tetap hidup hijau dan segar, maka jangan pernah melepaskan dirimu dari ranting. Sambungkan dirimu pada batang, dan biarkan hidupmu terus mengalir dari kekuatan akarnya.

Para Kiai, muassis (pendiri), dan guru-guru adalah akar yang menghujam bumi, memberi kehidupan tanpa terlihat, memberi kesegaran tanpa terasa. Kita semua adalah daun-daun yang bersandar pada dahan-dahan itu.

Sekali saja engkau terlepas dari dahan, mungkin engkau akan terlihat segar sesaat, namun itu hanyalah awal dari layu yang menyedihkan. Sebab tidak lama lagi, engkau akan mengering, rontok, dan akhirnya dicampakkan. Jika engkau ingin tetap indah dan bermanfaat, maka tetaplah lekat pada pohon itu. Tetaplah tersambung dengan akarnya melalui akhlak dan doa.”

Acara tasyakkuran ini ditutup dengan doa bersama, menandai dilepasnya Angkatan XI Dasantara untuk melanjutkan pengabdian dan studi mereka di jenjang yang lebih tinggi, dengan membawa bekal ilmu dan sanad yang terus tersambung kepada para Guru, Masyiayikh dan ke akar perjuangan Madrasah Fattah Hasyim.