WhatsApp

Usai Sabet Gelar ‘Best Student’, Siswa Ini Ungkap Kunci Sukses Padukan Hafalan Al-Qur’an dan Ujian PAT

FH Media – Memasuki hari ketiga pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026, para siswa terlihat fokus menatap lembar soal di bangku masing-masing. Namun, di balik ketegangan tersebut, terselip kisah perjuangan dari beberapa siswa yang harus memegang “dua amanah” sekaligus: mengejar nilai terbaik di madrasah dan menjaga hafalan Al-Qur’annya.

Salah satu potret perjuangan itu terlihat dari A. Izzudin Salim, siswa kelas XI Madrasah Fattah Hasyim. Sebagai siswa penghafal Al-Qur’an yang bermukim di Pondok Pesantren Al-Mardliyyah Putra—salah satu unit ribath di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas Jombang—masa-masa ujian seperti PAT menuntut tingkat kedisiplinan dan manajemen waktu yang sangat ketat. Terlebih lagi, bulan lalu ia baru saja menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 3 tingkat MA pada ajang The Best Student of Bahrul Ulum. Bagi Izzudin, muraja’ah (mengulang hafalan) adalah napas yang tidak boleh berhenti hanya karena tingginya intensitas ujian sekolah.

“Bagi saya, disiplin waktu sangat penting. Kalau malam hari, setelah salat Isya dan kegiatan pondok selesai, saya fokuskan untuk belajar materi PAT besok. Nah, waktu ba’da Subuh dan ba’da Ashar itu waktu mutlak untuk muraja’ah dan ziyadah (menambah hafalan) Al-Qur’an,” ungkap Izzudin saat ditemui seusai sesi ujian hari ketiga ini.

Siswa berprestasi yang dikenal tekun ini menambahkan bahwa menjaga keseimbangan keduanya tentu butuh komitmen kuat. “Kuncinya tidak boleh menunda waktu dan membiarkan ada waktu kosong. Kalau ditunda, hafalannya bisa goyah, materi sekolahnya juga tidak masuk. Tapi alhamdulillah, lingkungan pondok saya sangat mendukung kelancaran keduanya,” tambahnya sambil tersenyum.

Izzudin tentu tidak sendirian. Di ruang kelas XI maupun di kelas-kelas lain di Madrasah Fattah Hasyim, banyak siswa dan siswi yang menempuh jalan sunyi sebagai penjaga Kalam Ilahi. Mereka merupakan santri dari beberapa asrama tahfidz Al-Qur’an di bawah naungan YPPBU Tambakberas, di antaranya adalah Fathul Adhim Jauhari, Ahmad Falah Al-Ghazali, Bily Ilham, dan Muhammad Al-Fatih.

Di tengah padatnya jadwal PAT, mereka memiliki cara unik untuk menenangkan diri. Ahmad Falah Al-Ghazali menuturkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an justru menjadi “vitamin” penenang sebelum ia bergelut dengan rumitnya soal-soal ujian.

“Biasanya sebelum bel masuk ruang ujian bunyi atau saat pergantian jam, saya mengajak teman untuk menyimak hafalan saya. Jadi pikirannya rileks dulu. Membaca Al-Qur’an itu justru jadi penenang sebelum mengerjakan soal-soal PAT,” ujar Falah antusias.

Dinamika lelah yang berlipat ini tidak dianggap sebagai beban oleh mereka. Muhammad Al-Fatih turut membagikan prinsip yang selalu ia pegang erat selama ini.

“Pesan dari Kiai dan asatidz di pondok, asalkan niat kita lillah dan Al-Qur’annya terus dijaga, insyaallah urusan sekolah dan ujian umum itu akan ikut dimudahkan. Jadi lelah fisiknya memang dobel, tapi rasanya lega dan bangga kalau bisa menyelesaikan ujian madrasah tanpa harus absen setoran hafalan ke Kiai,” kata Al-Fatih penuh keyakinan.

Keberadaan para hafiz muda di tengah lingkungan madrasah ini menjadi bukti otentik dari harmonisasi visi Madrasah Fattah Hasyim. Ujian tidak semata-mata dimaknai sebagai ajang kompetisi meraih angka tertinggi, melainkan bagaimana karakter tangguh, kedisiplinan, dan integritas moral santri terbentuk dengan baik.

Seiring berakhirnya sesi ujian hari ketiga, A. Izzudin Salim, Falah, Al-Fatih, dan kawan-kawannya kembali berjalan kaki menuju asrama masing-masing. Mereka bersiap memeluk mushaf Al-Qur’an kembali, menjaga ayat-ayat suci agar tetap menetap kuat di dalam hati, sembari menyiapkan diri untuk menghadapi lembar soal ujian esok hari.