Membentuk Kesalehan Sosial Melalui Roan Bersama

Roan berasal dari kata tabaaraka-yatabaaraku-tabaarukan yang bermakna mengharap kebaikan dari seseorang, perbuatan atau suatu benda yang kesemuanya dilandasi dengan kekuasaan Allah sebagai pemilik segala kebaikan. Kemudian kata tersebut mengalami penyusutan dalam penyebutannya menjadi tabarukan-rukan-ru’an-roan. Dalam dunia pesantren, Roan dapat diartikan dengan kerja bakti atau gotong royong untuk membersihkan dan merapikan lingkungan.

Roan sebenarnya memiliki dua substansi; Pertama, nadzafah dzahiriyah yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, rapi dan sehat. Kedua, nadzafah bathiniyah yang bertujuan untuk melatih hati untuk menjauhi sifat-sifat buruk dan melatihnya untuk terbiasa dengan sifat-sifat terpuji. Dengan kata lain, Roan dapat diaplikasikan sebagai olahraga fisik sekaligus riyadhoh hati.

Nilai yang terkandung dalam aktifitas Roan ini diantaranya adalah;

  1. Melatih siswa untuk berjiwa sosial

Sebagai siswa, mereka harus mempersiapkan diri untuk masa depan mereka, sehingga perlu membekali diri dengan pengetahuan. Namun penguatan solidaritas dan jiwa sosial sama pentingnya, karena mereka harus mampu berintegrasi dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi Roan cukup untuk mendidik dan mengajari mereka tentang pentingnya solidaritas sosial dan kepedulian sosial di masa depan.

  1. Menanamkan nilai keikhlasan dan kesabaran

Kesabaran dan Ikhlas adalah sifat-sifat yang perlu dilatih secara individu, karena kedua sifat tersebut memang bukan bawaan dan tidak datang begitu saja. Dengan Roan ini, mereka dilatih untuk sabar dalam membantu dan ikhlas meluangkan waktu dan tenaga untuk gotong royong membersihkan lingkungan sekitar.

  1. Membentuk karakter konservatif

Siswa yang istiqamah dalam menjalankan tradisi Roan akan peka terhadap kebersihan lingkungan dan akan selalu menjaga diri dari keinginan merusak lingkungan. Tradisi roan erat kaitannya dengan ajaran Islam tentang kebersihan. Semoga semboyan “Bersih sebagian dari Iman” bukan hanya sekedar semboyan, tetapi benar-benar menyadarkan siswa bahwa ajaran Islam tersebut harus diamalkan.

Foto: Siswa/i membersihkan kamar mandi madrasah seminggu sekali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.